TEORI KOGNITIF
Menurut cognitive theory of multimedia learning
bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu
multimedia pembelajaran.
Jawab:
Tiga asumsi yang mendasari teori
kogitif tentang multimedia learning, yakni: dual-channel (saluran ganda), limited-capacity
(kapasitas terbatas), dan active-processing (pemrosesan-aktif).
1. Asumsi Saluran-ganda
Asumsi
saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki
saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi
auditori. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori
dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan
mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2. Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia
bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah,
dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang
masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari
informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
2. Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia
secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi
representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka.
Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang
masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang
menalar dan memasuk akalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor
pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat
diputar olah kapan saja.
Jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran matematika.
Jawab:
Teori dual coding yang
dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel,
yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual
(nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara
terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir dimulai ketika
sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan,
baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan
representatif (representational connection) terbentuk untuk
menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima.
Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan
logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi
dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat
dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari
wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses
melalui channel nonverbal disebut imagen.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan
memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat
ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi
yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang
relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada
informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja,
atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang
dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi
tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan
Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat
apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu
kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram
lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu
menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang
belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk
bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang
belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan
dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki
tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan
prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana
seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini
mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior
knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang
memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang
lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek,
sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja
lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga
menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang
digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal
dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti
berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari
beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak
pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Komentar
Posting Komentar